SUMENEP, Radarpantura.id – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Sumenep (Bemsu) menggelar aksi demonstrasi. Mereka mengawal isu soal kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, Senin (6/7).
Unjuk rasa itu dilakukan secara maraton di dua tempat. Pertama, Bemsu menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Sumenep, Jalan Trunojoyo. Setelah itu, dilanjutkan ke Kantor Bupati Sumenep di Jalan Dr. Cipto.
Korlap Aksi, <span;>M. Salman Farid, menyebut kelangkaan BBM bersubsidi adalah masalah serius yang perlu segera ditindaklanjuti. Menurutnya, hal itu memberikan dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat.
Tidak berhenti sekadar soal kelangkaan BBM, mahasiswa juga menyoroti adanya dugaan penyelewengan proses distribusi. Salman mengatakan, terdapat temuan pembelian BBM bersubsidi berskala banyak menggunakan jeriken.
“Kami minta langkah pengawasan makin diperketat,” ungkapnya.
Bahkan, kata dia, pengawasan itu perlu dilakukan dengan melibatkan lintas sektor. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencegah maraknya penyalahgunaan distribusi BBM bersubsidi.
“Pengawasan harus dilakukan terpadu,” tegasnya.
Ketua DPRD Sumenep, Zainal Arifin, menyatakan kesiapannya untuk ikut mengawal pendistribuan BBM bersubsidi. Dia berjanji akan mendorong aparat kepolisian dan pemerintah daerah agar bekerja lebih maksimal.
“Saya sendiri yang akan menekan serta mengawasi kinerja kepolisian dan pemerintah daerah,” ucapnya.
Sementara itu, Kabag Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setdakab Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, juga merespons aspirasi mahasiswa. Menurutnya, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan BBM bersubsidi.
“Kami sudah mengajukan penambahan kuota dan meminta agar pendistribusian BBM lebih masif,” jelasnya.
Sekarang, lanjut Dadang, Pemkab Sumenep sudah menerapkan pembatasan dalam pembelian BBM bersubsidi. Khusus kendaraan roda dua, diberi batas maksimal 10 liter per transaksi dan kendaraan rodak empat dibatasi 50 liter per transaksi.
“Kebijakan itu juga untuk mengendalikan ketersediaan BBM bersubsidi,” pungkasnya. (mif/bus)






