Mengarungi Laut demi Mimpi, Kisah Dua Pelajar Sapeken di Ajang Nasional

Rabu, 24 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERPRESTASI: Siswa SMAN 1 Sapeken, Agam Satriya, saat tampil di Panggung Global Future Leaders Network (GFLN) tingkat nasional di Jakarta. (Radarpantura.id/Istimewa)

BERPRESTASI: Siswa SMAN 1 Sapeken, Agam Satriya, saat tampil di Panggung Global Future Leaders Network (GFLN) tingkat nasional di Jakarta. (Radarpantura.id/Istimewa)

Perjalanan menuju Jakarta bagi sebagian pelajar mungkin perkara biasa. Namun bagi Agam Satriya Naraendra dan Radif Gibran Hamzah Prawira, perjalanan itu adalah cerita tentang mimpi yang berlayar jauh dari Pulau Sapeken.

MOH BUSRI, Sumenep, Radarpantura.id

Hari itu, keduanya meninggalkan kampung halaman di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Lautan yang selama ini membatasi akses justru menjadi jalur awal menuju kesempatan besar.

Agam dan Radif merupakan siswa kelas XI SMAN 1 Sapeken. Nama mereka berhasil lolos dalam program Global Future Leaders Network (GFLN) tingkat nasional.

Prestasi tersebut menjadi kabar membanggakan bagi masyarakat kepulauan. Sebab, kesempatan mengikuti program berskala nasional tidak selalu mudah dijangkau pelajar daerah.

Keberhasilan itu lahir melalui dukungan SKK Migas-KKKS Kangean Energy Indonesia bersama pihak sekolah. Kolaborasi tersebut membuka ruang baru bagi pelajar untuk berkembang lebih jauh.

Awalnya terdapat lima siswa yang mengikuti proses seleksi. Namun hanya Agam dan Radif yang berhasil melangkah hingga tahap nasional.

“Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan ini,” ujar Agam.

Perjalanan mereka menuju Jakarta tidak berlangsung singkat. Dari Sapeken, keduanya harus bergerak menuju Pagerungan Besar sebelum melanjutkan penerbangan.

Rangkaian perjalanan itu membawa mereka ke Surabaya lalu Jakarta. Bagi pelajar kepulauan, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang sangat berkesan.

Setibanya di ibu kota, suasana yang berbeda langsung menyambut mereka. Gedung-gedung tinggi dan hiruk pikuk kota menghadirkan pengalaman baru.

“Ini pengalaman yang sangat berharga,” kata Agam.

Selama 15 hingga 20 Juni 2026, keduanya mengikuti berbagai kegiatan kepemimpinan. Agenda berlangsung padat mulai pagi hingga malam hari.

Workshop, diskusi, dan pelatihan menjadi bagian dari aktivitas peserta. Mereka juga berkesempatan mengunjungi sejumlah institusi penting.

SKK Migas, Museum Nasional, Universitas Indonesia, hingga fasilitas pengelolaan limbah menjadi tujuan kunjungan. Setiap lokasi menghadirkan wawasan baru yang memperluas cara pandang peserta.

Bagi Agam, pengalaman tersebut membuka cakrawala yang sebelumnya sulit dibayangkan. Banyak hal baru yang ia temukan selama berada di Jakarta.

“Banyak hal baru yang saya pelajari,” tuturnya.

Sebelum mengikuti GFLN, peserta terlebih dahulu menjalani AFS Global Competence Certification. Program itu membekali peserta dengan pemahaman lintas budaya dan kepemimpinan.

Materi yang diberikan mencakup keberagaman, kolaborasi, dan peran warga global. Bekal tersebut menjadi fondasi sebelum memasuki kegiatan utama.

Yang menarik, seluruh pembelajaran dikemas secara interaktif. Peserta belajar melalui permainan, diskusi kelompok, dan berbagai simulasi.

Mereka juga diajak memahami kerja tim dan penyelesaian masalah. Selain itu, peserta mempelajari perencanaan proyek serta pengelolaan sampah.

Pengalaman tersebut menjadi ruang refleksi bagi Agam. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan memimpin orang lain.

Kepemimpinan juga dimulai dari kemampuan memperbaiki diri sendiri. Kesadaran itu menjadi pelajaran paling berharga yang ia bawa pulang.

“Semoga adik-adik lain ikut termotivasi,” harapnya.

Di tengah seluruh aktivitas itu, dukungan keluarga tetap mengalir dari kampung halaman. Orang tuanya rutin menghubungi untuk memastikan kabar dan kondisi selama di Jakarta.

Kini, perjalanan Agam dan Radif telah menjadi cerita yang menginspirasi banyak pelajar. Dari pulau kecil di tengah lautan, mereka membuktikan bahwa mimpi tidak pernah dibatasi jarak.

“Keterbatasan geografis bukan penghalang untuk meraih prestasi,” pungkas Agam. (*)

Berita Terkait

Gemilang Nusantara Tutup Semarak Kemerdekaan dengan Santunan dan Hiburan Meriah
Bimbel Gemilang Nusantara Perkuat Ekosistem Pendidikan Lewat JJS Kemerdekaan
Gus Navis Melaju Sendiri Menuju Kursi Ketua DPD Golkar Sumenep
Seleksi Pengisian Empat Kursi Pimpinan OPD Sumenep Nihil Pendaftar
BGN Suspend Ratusan SPPG, Sebanyak 311 Dapur Wilayah Jawa-Madura Terdampak
Operasionalisasi Fasilitas RDF di TPA Sumenep Macet, DLH Berdalih Akibat Perbaikan Bangunan
Kerja Sama DLH Sumenep dengan PT SBI Tak Tuntas, 40 Ton RDF Tak Terjual
DJP Gandeng TNI-Polri Terkait Pajak, KP2KP Sumenep Berdalih untuk Pengamanan

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:30

Gemilang Nusantara Tutup Semarak Kemerdekaan dengan Santunan dan Hiburan Meriah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 05:11

Bimbel Gemilang Nusantara Perkuat Ekosistem Pendidikan Lewat JJS Kemerdekaan

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:20

Gus Navis Melaju Sendiri Menuju Kursi Ketua DPD Golkar Sumenep

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:27

Seleksi Pengisian Empat Kursi Pimpinan OPD Sumenep Nihil Pendaftar

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:36

BGN Suspend Ratusan SPPG, Sebanyak 311 Dapur Wilayah Jawa-Madura Terdampak

Berita Terbaru