SURABAYA, radarpantura.id – Pemutaran film dokumenter Di Balik Ilusi Tembakau memantik kritik terhadap lemahnya pengendalian rokok di Indonesia. Film tersebut diputar dalam agenda nonton bareng dan diskusi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya bersama AJI Jakarta di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya pada Selasa, (19/05/2026).
Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Valina Khiarin Nisa, menilai film tersebut berhasil membedah persoalan rokok dari berbagai sisi. Mulai dari persoalan kesehatan, ekonomi, hingga trauma psikologis yang dialami perokok maupun keluarga mereka.
Menurut Valina, salah satu persoalan terbesar ialah keyakinan yang terus dipelihara bahwa rokok dapat membantu konsentrasi dan memberi rasa nyaman. Padahal, anggapan itu belum pernah benar-benar dibuktikan secara ilmiah oleh para perokok sendiri.
“Merokok bikin fokus, itu kan hanya keyakinan para perokok. Tapi kan mereka belum menguji itu fakta atau bukan,” kata Valina.
Ia juga menyoroti penerapan aturan kawasan tanpa rokok (KTR) yang dinilai masih sering berhenti di level formalitas. Pemerintah, kata dia, semestinya tidak hanya sibuk membuat regulasi tanpa keberanian menindak pelanggaran di lapangan.
“Aturan tersebut jangan hanya sekadar menjadi slogan,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Billy Daniel Messakh, mengakui pendekatan regulasi saja tidak cukup menekan konsumsi rokok di masyarakat. Karena itu, menurut dia, kampanye publik melalui medium film menjadi cara lain untuk memperkuat edukasi tentang bahaya tembakau.
“Penelanan aturan terhadap masyarakat menjadi semakin lengkap jika dibantu dengan promosi film semacam ini,” katanya.
Billy mengatakan Pemerintah Kota Surabaya saat ini memperketat implementasi aturan KTR, termasuk membatasi iklan rokok di sekitar sekolah dan rumah sakit. Pengawasan juga mulai diperluas ke pusat-pusat perbelanjaan yang nantinya akan masuk kawasan larangan merokok.
Direktur RSUD dr Mohamad Soewandhie itu menambahkan edukasi tentang bahaya rokok seharusnya dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua dinilai memiliki peran paling besar untuk mencegah anak terpapar kebiasaan merokok sejak dini.
“Para orang tua harus bisa menekankan bahaya merokok kepada anak-anak,” ujarnya. (*/bus)






